3d Printer Inverted Z Design
PERANCANGAN MESIN 3D PRINTER DENGAN METODE REVERSE ENGINEERING (Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Abstract
Laboratorium Mekatronika dan laboratorium Robotics di Universitas Tarumanagara merupakan laboratorium untuk mempelajari ilmu mekanika, elektronika, dan informatika. Dalam proses produksinya, Laboratorium Mekatronika dan Robotics sangat memperhatikan proses pembuatan robot yang dianalisis mulai dari proses pembuatan rangka dan komponen robot hingga proses pemasangan rangkaian elektronik dan penerapan program pada robot. Reverse engineering merupakan proses analisis produk yang sudah ada sebagai acuan untuk merancang produk yang sejenis dengan memperkecil dan meningkatkan keunggulan produk. Kegiatan Reverse Engineering (RE) dilakukan dengan cara Diassembly 3D printer lama, Assembly 3D printer lama, Benchmarking, Design 3D printer baru, dan terakhir adalah protyping. Reverse engineering dilakukan pada produk 3D printer Grabber i3. Untuk 3D printer baru ini dilakukan inovasi pada material produk, yaitu akrilik, power supply 12V 30A, motor driver A4988, extruder bowden MK8, dan menambah fitur baru yaitu heatbed
Discover the world's research
- 20+ million members
- 135+ million publications
- 700k+ research projects
Join for free
Content may be subject to copyright.
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
PERANCANGAN MESIN 3D PRINTER
DENGAN METODE REVERSE ENGINEERING
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
Program Studi Teknik Industri Jurusan Teknologi Industri
Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara
e-mail: fransjusuf42@gmail.com
ABSTRAK
Laboratorium Mekatronika dan laboratorium Robotics di Universitas Tarumanagara
merupakan laboratorium untuk mempelajari ilmu mekanika, elektronika, dan informatika.
Dalam proses produksinya, Laboratorium Mekatronika dan Robotics sangat memperhatikan
proses pembuatan robot yang dianalisis mulai dari proses pembuatan rangka dan komponen
robot hingga proses pemasangan rangkaian elektronik dan penerapan program pada robot.
Reverse engineering merupakan proses analisis produk yang sudah ada sebagai acuan untuk
merancang produk yang sejenis dengan memperkecil dan meningkatkan keunggulan produk.
Kegiatan Reverse Engineering (RE) dilakukan dengan cara Diassembly 3D printer lama,
Assembly 3D printer lama, Benchmarking, Design 3D printer baru, dan terakhir adalah
protyping. Reverse engineering dilakukan pada produk 3D printer Grabber i3. Untuk 3D
printer baru ini dilakukan inovasi pada material produk, yaitu akrilik, power supply 12V 30A,
motor driver A4988, extruder bowden MK8, dan menambah fitur baru yaitu heatbed.
Kata kunci: 3D printer, Produktivitas, Metode Rekayasa Desain, Rekayasa Balik.
ABSTRACT
Mechatronics and Robotics laboratory at Tarumanagara University is a teaching laboratory to
study the science of mechanics, electronics, and informatics. In the production process,
Mechatronics and Robotics Laboratory are very concerned about the process of making robots
that are analyzed from the process of making the framework and robot components to the
process of installation of electronic circuits and the application of the program on the robot.
This research will be designed and made a machine 3D printer to assist workers in the process
of making robot components so as to increase the level of productivity of the work of making
robot components. Reverse engineering is an existing product analysis process as a reference
for designing similar products by minimizing and increasing product superiority. Reverse
Engineering (RE) activities are done by old diassembly 3D printers, old assembly 3D printers,
Benchmarking, Design 3D new printers, and the last is protyping. Reverse engineering is done
on 3D grabber i3 printer product. For this new 3D printer innovation on product material,
acrylic, 12V 30A power supply, A4988 motor driver, MK8 bowden extruder, and add new
feature that is heatbed.
Keywords:3D printer, Productivity, Engineering Design Method, Reverse Engineering.
PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di industri saat ini berkembang dengan
cepat terutama di bidang otomasih industri. Perkembangan ini dapat dilihat dengan jelas di
perindustrian Indonesia, mulai dari yang awalnya banyak pekerjaan menggunakan tenaga
manusia, kemudian berkembang berubah menggunakan mesin dan pekerjanya beralih
menjadi operator. Tujuan mengotomasih sebuah proses adalah untuk menciptakan kualitas
produk yang tinggi, mengurangi biaya produksi, dan mengurangi waktu produksi dalam
suatu proses produksi.
Reverse engineering (rekayasa balik) merupakan proses analisis produk yang sudah
ada sebagai acuan untuk merancang produk yang sejenis dengan memperkecil dan
meningkatkan keunggulan produk [1]. Dengan metode reverse engineering prinsip kinerja
dari sebuah alat, objek, atau sistem yang dapat dilakukan dengan menganalisis struktur,
fungsi, dan pengoperasiannya.
Perancangan Mesin 3D Printer dengan Metode Reverse Engineering
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
Laboratorium Mekatronika dan Robotics merupakan laboratorium untuk mempelajari
ilmu mekanika, elektronika, dan informatika. Selain itu, Laboratorium Mekatronika juga
berdampingan dengan laboratorium Robotics yang merupakan komunitas untuk
mempelajari ilmu-ilmu robotika. Dalam proses produksinya, Laboratorium Robotics sangat
memperhatikan proses pembuatan robot yang dianalisis mulai dari proses pembuatan
rangka dan komponen robot hingga proses pemasangan rangkaian elektronik dan
penerapan program pada robot.
Laboratorium Mekatronika dan Robotics belum memiliki alat bantu dalam proses
pembuatan komponen robot sehingga harus membuat komponen robot seperti plat besi
secara manual satu per satu yang tidak efisien dalam penggunaan waktu dan tenaga, serta
menyebabkan kelelahan fisik dan kecelakaan kerja. Tanpa adanya alat otomasih ini, harus
dipotong dan dibengkokkan plat besi tersebut secara manual menggunakan gergaji dan
palu bending. Dalam membuat komponen robot, setidaknya memerlukan tingkat
kepresisian yang tinggi untuk dapat digunakan pada robot dan jika menggunakan alat
otomasih lain seperti mesin CNC (Computer Numerical Control) sangat tidak
memungkinkan karena ukuran laboratorium yang tidak cukup besar dan biaya yang
dikeluarkan untuk membeli mesin tersebut lebih mahal.
Penelitian ini merancang dan membuat suatu mesin 3D printer guna membantu
pekerja dalam proses pembuatan komponen robot sehingga dapat meningkatkan tingkat
produktivitas pekerjaan pembuatan komponen robot. Mesin 3D printer yang dirancang ini
akan mempermudah pekerja dalam pembuatan komponen robot karena mesin 3D printer
ini dapat membuat komponen robot dalam jumlah yang lebih banyak dan presisi jika
dibandingkan dengan pembuatan komponen secara manual. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan, terdapat berbagai keluhan mengenai tingkat produktivitas dan kepresisian dalam
proses tersebut. Hal ini disebabkan karena sering kali terjadi human error sehingga tidak
jarang saat pemotongan atau pembuatan lubang meleset dari pola yang sudah ditentukan.
Diperlukan adanya mesin 3D printer dalam pembuatan komponen robot agar dapat
meningkatkan tingkat produktivitas.
METODE PENELITIAN
Perencanaan Konsep 3D Printer
Perencanaan konsep 3D printer menggunakan metode mindmapping yg dipopulerkan
oleh Tony Buzan, seorang penulis dan bintang televisi terkenal dari Inggris. Sistem ini jauh
lebih efektif dari sistem mencatat linear yang selama ini kita lakukan sejak masihh di
bangku sekolah dasar. Mencatat materi runtut ke bawah menggunakan urutan nomor dan
angka ternyata tidak sesuai dengan cara bekerja otak kita. Mencatat secara linear berarti
menggunakan cara kerja otak kiri, sedangkan mencatat dengan sistem mindmapping adalah
cara bekerja otak kanan yang melibatkan kreativitas, imajinasi, visualisasi dan
berhubungan langsung dengan otak bawah sadar sehingga mudah untuk diingat. Gambar
mindmapping perencanaan konsep 3D printer dapat dilihat pada Gambar 1.
Dari mindmapping dapat dijelaskan bahwa:
1.
3D printer terdapat 3 jenis yaitu: Delta, Core XY, dan Mendel (pada perancangan ini
akan dibuat 3D printer jenis mendel)
2.
3D printer memiliki fungsi untuk mencetak model 3D
3.
3D printer pada umumnya memiliki komponen utama: extruder, x axis, y axis, z axis ,
rangka, micro controler, dan sistem penggerak
4.
Perancangan 3D printer baru ini akan dibuat menggunakan metode reverse engineering
dengan produk grabber i3, dan untuk pemilihan konsep digunakan metode rekayasa
desain/VDI 2221
5.
3D printer dapat mencetak bahan PLA, ABS, Nylon, dan Hips
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
6.
Kekurangan 3D printer grabber i3 yang ada dipasaran masihh memiliki kekurangan
diantaranya: rangka mudah patah; displai kecil dan kurang informatif; saat pencetakkan
3D model mudah copot.
Gambar 1. Mindmapping Perencanaan Konsep 3D Printer
Metode Rekayasa Desain (VDI 2221)[6]
Perancangan dengan menggunakan metode Rekayasa Desain atau VDI 2221 (Verein
Deutcher Ingenieure) merupakan salah satu metode untuk menyelesaikan permasalahan
dan mengoptimalkan penggunaan material, teknologi dan keadaan ekonomi. Ide dan
pengetahuan merupakan sumber dasar dari perancangan produk guna memenuhi
permintaan konsumen dan demi keuntungan semua pihak tentunya.
Tabel 1. Daftar Spesifikasi Awal
Mempergunakan tangan manusia
Bentuk rancangan hemat material
Energi yang berasal dari listrik
Komponen tidak mudah rusak
Mudah untuk dibongkar pasang
Biaya pembuatan terjangkau
Setelah menentukan spesifikasi awal (Tabel 1), prinsip solusi sub fungsi perlu dibuat
untuk menyeleksi komponen yang akan digunakan pada perancangan mesin 3D printer
untuk membuat komponen ROV. Prinsip solusi ini dapat dibuat menjadi beberapa varian
dan dianalisis dengan tujuan menghasilkan produk dengan nilai efisien yang tinggi. Setelah
membuat daftar spesifikasi awal, prinsip solusi sub fungsi perlu dibuat untuk menyeleksi
komponen yang akan digunakan pada perancangan mesin 3D printer proses pembuatan
komponen. Prinsip solusi ini dapat dibuat sebanyak yang diinginkan dengan tujuan
menghasilkan produk dengan nilai efisien yang tinggi. Setelah prinsip solusi sub fungsi
Perancangan Mesin 3D Printer dengan Metode Reverse Engineering
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
dibuat, langkah selanjutnya membuat kombinasi yang mungkin sehingga membentuk
sistem yang paling menunjang dalam membentuk beberapa varian. Kombinasi prinsip
solusi sub fungsi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Prinsip Solusi Sub Fungsi dan Kombinasi Prinsip Solusi Sub Fungsi
Prinsip Solusi
Sub Fungsi
RepRap Discount Full
Graphic
LCD Displai Smart
Controller
Berdasarkan prinsip-prinsip solusi yang telah dilakukan di atas, didapatkan
kombinasi varian sebanyak 5.184 lalu dipilih 3 varian sebagai berikut:
1. V1: 1.2 ~ 2.1 ~ 3.2 ~ 4.1 ~ 5.1 ~ 6.1 ~ 7.3 ~ 8.2 ~ 9.2 ~ 10.3
2. V2: 1.1 ~ 2.2 ~ 3.2 ~ 4.2 ~ 5.2 ~ 6.1 ~ 7.1 ~ 8.1 ~ 9.1 ~ 10.1
3. V3: 1.3 ~ 2.1 ~ 3.1 ~ 4.1 ~ 5.1 ~ 6.2 ~ 7.2 ~ 8.3 ~ 9.2 ~ 10.2
Untuk menentukan varian yang mungkin dilanjutkan dalam proses perancangan ini,
harus dilakukan seleksi terhadap varian yang ada. Salah satu cara dalam pemilihan varian
dapat dilakukan dengan menggunakan diagram seleksi seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Pemilihan Varian Solusi
Varian dievaluasi dengan kriteria solusi:
( + ) Ya
( - ) Tidak
( ? ) Kekurangan informasih
( ! ) Periksa spesifikasi
Keputusan tanda solusi varian (SV):
( + ) Meningkatkan solusi
( - ) Menghilangkan solusi
( ? ) Mengumpulkan informasih
( ! ) Memeriksa spesifikasi untuk perubahan
Sesuai dengan fungsi keseluruhan
Sesuai dengan daftar kehendak
Secara prinsip dapat diwujudkan
Dalam batasan biaya produksi
Pengetahuan tentang konsep memadai
Sesuai dengan keinginan pembuat
Dari tabel 3 dapat diketahui, varian 1 memenuhi kriteria perancangan. Dengan
memperhitungkan sisi biaya produksi dan sesuai fungsi yang dikehendaki untuk mesin 3D
printer proses pembuatan komponen ini, maka dipilih varian 1 yang akan dilanjutkan ke
proses berikutnya.
Setelah didapatkan prinsip-prinsip solusi sub fungsi, struktur fungsi atau arsitektur
produk perlu dibuat untuk mengetahui tata letak yang terbaik untuk membuat sebuah mesin
3D printer dengan mengetahui aliran material, energi, dan sinyal. Struktur fungsi ini dapat
dibuat menjadi bentuk perumusan aliran fungsi.
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
Setelah terbentuk skema 3D printer selanjutnya adalah pengelompokkan elemen-
elemen pada skema 3D printer hingga terbentuk menjadi chunk (Gambar 2).
Gambar 2. Skema 3D Printer dan Pengelompokkan Elemen 3D Printer Menjadi Chunk
Varian 1 terdiri dari rangka yang terbuat dari akrilik dan memiliki ketebalan 5 mm,
micro controler menggunakan arduino mega, Heat bed ukuran 20 cm x 20 cm berbentuk
persegi, displai menggunakan reprap discount full graphic yang memiliki tampilan yang
lebar, dan sistem penggerak menggunakan timing belt GT2 (Gambar 3).
Gambar 3. Rancangan Awal Mesin 3D Printer Terpilih
Kegiatan Reverse Engineering
Pada Penelitian ini digunakan metode reverse engineering. Pengembangan produk
pada penelitian ini menggunakan beberapa prosedur yang dilakukan sebagai berikut:
Disassembly; Assembly; Benchmarking; Design mesin 3D printer baru; dan Prototyping.
1.
Disassembly
Pada tahap ini di lakukan pembongkaran 3D printer lama guna untuk mendapatkan
bill of material dan menganalisis fungsi-fungsi dari setiap komponen. Produk yang di
bongkar adalah 3D printer grabber i3 (Gambar 4).
Perancangan Mesin 3D Printer dengan Metode Reverse Engineering
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
(a) (b)
Gambar 4. Rangka dan Komponen Elektronik 3D Printer Grabber i3 Setelah Dibongkar
Hasil disassembly pada 3D printer grabber i3 didapatkan bahwa dimensi 3D printer
adalah 460mm x 450mm x 420mm, dengan jumlah komponen sebanyak 66, dan
menggunakan bahan baku kayu MDF (Medium Density Fibreboard). Dan dari hasil
disassembly 3D printer tersebut didapatkan data Bill of Material.
Berdasarkan BOM yang telah dijelaskan di atas, dapat diketahui jenis-jenis beserta
jumlah dari komponen dan subkomponen yang diperlukan dalam pembuatan 3D printer
grabber i3. Berikut adalah part list dari grabber i3 yang dapat dilihat pada Tabel 4.
2.
Assembly
Pada tahapan ini dilakukan penggabungan kembali komponen-komponen yang sudah
dibongkar agar didapat operation process chart mesin 3D printer grabber i3 yang ada
dipasaran. Gambar OPC mesin 3D printer grabber i3 dapat dilihat pada Gambar 5.
3.
Benchmarking
Pada tahap benchmarking ini dilakukan observasi langsung pada mesin 3D printer
Grabber i3 yang ada dipasaran lalu membandingkan keunggulan dan kelemahan produk
sejenis, kemudian menentukan komponen yang ingin di benchmark. Penyusunan mesin 3D
printer baru digunakan 3 produk yang sudah ada dipasaran, dijelaskan pada Grabber i3 dan
Prusa i3. Tabel 4. Part List Komponen 3D Printer Grabber i3
20,4 mm x 35.5 mm x 49 mm
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
Lanjutan Tabel 4. Part List Komponen 3D Printer Grabber i3
27,3 mm x 22,3 mm x 81 mm
1).
Grabber i3
Benchmarking yang didapat dari Grabber i3 adalah sistem penggerak, extruder, hot
end, dan rangka utama, dengan pertimbangan rangka Grabber i3 lebih mudah dimanufaktur
dibandingkan dengan 3D printer lainnya yg membutuhkan alat khusus untuk manufaktur
rangkanya.
Kerangka 3D Printer
Grabber i3 (MDF 460 mm
x 450 mm x 420 mm 1 set
Pemotongan rangka sesuai
dengan pola yang diinginkan
(Mesin Laser Catting)
Baut dan Mur
0-2 Proses Perakitan Bagian X,Y,
dan Z Axis, serta Rangka
Utama (Obeng)
Baut dan Mur
Smooth Rod
X,Y, dan Z Axis
3 pasang
0-3 Proses Penggabungan semua
bagian (Obeng)
Threaded Rod M8
dan Lead Screw
(2 x 335 mm) 2 set
Pulley Belt GT2, dan
Bearing 2 set
Power Supply
(211 mm x 113 mm
x 50 mm) 1 unit
Motor Stepper Nema
17 (43 mm x 43 mm
x 56 mm) 5 unit
Ramps 1,4 dan
Arduino Mega (115
mm x 61 mm x 42
mm) 1 set
Baut
Kabel
0-9
0-10
Proses Pemasangan Smooth
Rod
Proses Perakitan Komponen
Mekanik
(Obeng dan Kunci L)
Proses Penyolderan elektronik
(Solder)
Inspeksi Akhir
Gambar 5. Operating Process Chart Mesin 3D Printer Grabber i3
Perancangan Mesin 3D Printer dengan Metode Reverse Engineering
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
2).
Prusa i3
Benchmarking yang didapat dari prusa i3 adalah motor nema 17, Arduino Mega,
Ramps 1,4, pulley dan bearing , Motor driver, material rangka, dan power supply.
Benchmarking yang dilakukan dengan Arduino Mega Ramps 1,4, dan motor driver karena
lebih mudah diprogram oleh mahasiswa, dan material prusa i3 yg terbuat dari akrilik
sehingga lebih kuat dibanding grabber i3 yg terbuat dari MDF (Gambar 6).
(a)
(b)
Gambar 6. Grabber i3 dan Prusa i3
4.
Design Mesin 3D Printer Baru
Pada tahap ini dirancang sebuah mesin 3D printer dengan cara menggabungkan dan
mengembangkan grabber i3 dan prusa i3 dari beberapa tahapan reverse engineering
sebelumnya didesign menggunakan Software Autodesk Inventor dalam bentuk 3D model.
Pada mesin 3D printer ini telah dikembangkan mulai dari rangka yang terbuat dari
akrilik dengan dimensi 460 mm x 450 mm x 420 mm, penambahan heatbed, penggantian
displai menjadi reprap discount full graphic, menggunakan power supply 12V 30 A,
menggunakan motor nema 17, menggunakan micro controller arduino mega dan RAMPS 1,4.
5.
Prototyping
Pada tahap ini mesin 3D printer baru yang sudah didesain atau dirancang, dilanjutkan
dengan proses manufaktur dimana rangka 3D printer dengan bahan akrilik dan memiliki
tebal 5 mm di manufaktur dengan mesin laser cutting. Setelah rangka selesai dimanufaktur
dilanjutkan dengan proses assembly semua komponen 3D printer (Gambar 7).
(a) Tampak Depan (b) Tampak Samping
Gambar 7. Design Mesin 3D Printer Terbaru
6.
Pemrograman 3D printer
Pada tahap ini akan dibuat sebuah algoritma pemrograman pada 3D printer yang
baru. Pada algoritma ini akan dijelaskan program dibaca oleh mikrokontroler dan
meneruskannya hingga 3D model dicetak di atas heatbed. Algoritma pemrograman pada
3D printer yang baru dapat dilihat pada Gambar 8.
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
Gambar 8. Algoritma Pemrograman Pada 3D Printer Yang Baru
7.
Spesifikasi Mesin 3D printer Baru.
Data spesifikasi (Tabel 5) dibutuhkan sebagai acuan dalam manufaktur 3D printer.
Dimensi mesin 3D printer terdiri dari panjang X axis sebesar 460 mm, panjang Y axis
sebesar 450 mm, panjang Z axis sebesar 420 mm, ukuran heat bed sebesar 200 x 200 mm,
dan menggunakan komponen mesin motor stepper nema 17, mikrokontroler arduino mega
dan RAMPS 1,4, motor nema 17, extruder bowden dengan MK8 alumunium, J Head Hot
end dengan diameter lubang 0,4 mm, dan motor driver A4988 (Gambar 9).
Gambar 9. Spesifikasi Mesin 3D Printer
Perancangan Mesin 3D Printer dengan Metode Reverse Engineering
(Studi Kasus di Laboratorium Mekatronika dan Robotics Universitas Tarumanagara)
Frans Jusuf Daywin, Didi Widya Utama, Wilson Kosasih, Kevin William
Tabel 5. Spesifikasi Mesin 3D Printer
Ukuran yang dapat di cetak
Setelah dilakukan pembuatan 3D printer dengan metode reverse engineering maka
didapat hasil prototyping mesin 3D printer yang baru, dimana mesin 3D printer yang baru
memiliki rangka yang kuat yg terbuat dari akrilik, menambahkan fitur heatbed, dan
mengganti displai menjadi reprap discount full graphic yang memiliki displai yg lebih
besar dan informatif.
HASIL DAN PERMBAHASAN
Setelah melakukan proses perancangan mesin 3D printer dengan metode reverse
engineering mulai dari tahapan diassembly sampai prototyping . Selanjutnya adalah
melakukan proses implementasi mesin 3D printer dengan rancangan baru di laboratorium
Robotics UNTAR guna untuk melihat biaya pembuatan 3D printer yang baru.
Kelebihan 3D Printer baru: Rangka mudah dimanufaktur; Kabel dirangkai dengan
rapi; Mudah di program; Mudah dioperasikan; Material rangka tidak mudah patah;
Dilengkapi dengan heat sehingga tidak; Displai besar dan informatif. Kekurangan 3D
Printer baru: Rangka masih mudah goyang; Displai terpisah dengan mesin; Memiliki luas
print yang lebih kecil (Gambar 11).
(a) (b)
Gambar 11. Tampak Depan dan Tampak Samping Mesin 3D Printer
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Tahap-tahap reverse engineering yang dilakukan untuk mendesain 3D printer baru
adalah sebagai berikut:
-
Diassembly produk atau pembongkaran 3D printer yang digunakan untuk membuat
sebuah 3D printer grabber i3.
-
Assembly produk atau penggabungan 3D printer.
-
Benchmarking dilakukan untuk membandingkan antara 3D printer yang sudah ada
agar dapat di kembangkan dan dilakukan inovasi, agar dapat didesign sebuah 3D
printer yang lebih optimal.
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2019) Vol. 7 No. 2, 79 – 89
-
Design mesin 3D printer baru hasil benchmarking ke 3D CAD model menggunakan
software autodesk inventor.
-
Prototyping adalah akhir dari proses reverse engineering menghasilkan suatu produk
baru yang lebih inovatif yaitu 3D printer baru yang dilengkapi dengan heatbed dan
displai reprap discount full graphic.
2.
Dari hasil rancangan mesin 3D printer ini didapatkan:
Kelebihan grabber i3: rangka mudah dimanufaktur; kabel dirangkai dengan rapi;
mudah di program; mudah dioperasikan dan kekurangan grabber i3: material rangka
mudah patah; hasil cetak mudah copot; displai kecil dan kurang informatif.
Kelebihan 3D Printer baru: rangka mudah dimanufaktur; kabel dirangkai dengan
rapi; mudah di program; mudah dioperasikan; material rangka tidak mudah patah;
dilengkapi dengan heat bed sehingga hasil cetak tidak mudah copot; displai besar dan
informatif dan kekurangan 3D Printer baru: rangka masih mudah goyang; displai terpisah
dengan mesin; memiliki luas print yang lebih kecil.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Wibowo, Dwi Basuki, 2006, Memahami Reverse Engineering Melalui
Pembongkaran Produk Di Program S-1 Teknik Mesin, Jurnal.Unimus.ac.id, 4
(1):20a-31.
[2]. BPS, 2015, Efisiensi Sistem Produksi Dan Tataniaga Hortikultura, Buku 3, Jakarta.
[3]. Eilam, Eldad., 2005, Reversing: Secrets of Reverse Engineering. Indianapolis: Wiley
Publishing.
[4]. Otto Kevin N., and Wood Kristin L,1998, Product Design, Techniques in Reverse
Engineering ang Product Development, Printed USA.
[5]. Otto Kevin N., and Wood Kristin L, 1998, "A Reverse Engineering and Redesign
Methodology", Jurnal Methodology http://alvaresrtech.com/temp/PDP2011
/ems665.ogliari.prof.usfc.br.Restrito/product%20evolution%20_%20%20reverse%20
engineerimg20%and20redesign%20methodology.pdf. (diunduh 29 Februari 2018,
jam 19.25).
[6]. Pahl, G., Beitz, W., Feldhusen, J., and Grote, K.H., 2007, Engineering Design: A
Systematic Approach. 3nd ed., London.
[7]. Prasojo, Tuwuh. W, 2016, Perancangan Ulang Mesin Pencacah Rumput Dengan
Metode Reverse Engineering, Jurnal Teknik Industri Universitas Muhammadiyah,
Surakarta.
[8]. Reprap, 2018, Komponen 3D Printer, http://reprap.org/wiki/Graber_i3 (diakses 24
Februari 2018, jam 20.10).
[9]. Ulrich, Karl T. dan Steven D. Eppinger , 2001, Perancangan Dan Pengembangan
Produk. Salemba Teknika, Jakarta.
[10]. Wibowo, Ganang. F, 2016, Perancangan Ulang Produk Pti 1 Menggunakan Metode
Reverse Engineering, Jurnal Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta.
[11]. Nugroho, Wahyu Adi, 2008, Perancangan Ulang Alat Pengupas Kacang Tanah Untuk
Meminimalkan Waktu Pengupasan, Tugas Akhir Teknik Industri Universitas
Muhammadiyah, Surakarta.
In this modern age, where information, communication, and technology are developing rapidly, the food & beverage industry began to appear one by one, seeing this phenomenon as a promising business opportunity. Haiso Coffee is an example of a business in this food & beverage industry that focuses on the coffee-based drink that has recently started its business in the retail world. The problems that can be seen during the observation are the working table that still looks not tidy and neat and the worktable is not high enough, seen from the barista posture. Therefore, the research intends to design a tool that can help fix haiso coffee. The working table's design is adjusted according to the needs that haiso coffee required the matrix of needs and interests, which is based on data collected from interviews. The working table has designed a thick base to adjust an ergonomic working table's height with several additional functions. The first shelf functions as a storage and placing several machines and materials on the working table. The second one is for the showcase, which serves as a display for several haiso coffee products.
Chocolate powder is made from meal / cocoa beans that are separated by brown fat. To obtain cocoa powder, cocoa beans are harvested in perfect ripping conditions. Then cut to take the seeds. Cocoa beans are fermented for 2-8 days. After fermentation is complete, the seeds are dried until the moisture content reaches 6-8%. Then the separation of the skin and the scattering. The next process is the manufacture of chocolate paste. After going through the process of making chocolate paste, the next process is making of powdered chocolate by smoothing using a grinder. Chocolate grinding machine is a tool specially designed to reduce the size of cocoa beans become powder after getting through the cooking process. This research was carried out to modify the grinding machine with the selected benchmarks then carried out a design update to the benchmark. This research will increase the milling capacity and increase the efficiency of the machine so that grinder machine users can have a grinder machine at an affordable price but maximum quality of cocoa powder. By analyzing various methods such as reverse engineering method is an existing product analysis process as a reference for designing a similar product by increasing product excellence, and VDI 2221 method is a systemic approach to design for engineering systems and engineering products. After the research was conducted obtained the design of a chocolate grinder machine that has better performance in grinding the seeds become powder and a larger milling capacity in the grinder machine after being modified.
An espresso machine is used to extract coffee powder under high pressure. The machine works instantly as the coffee powder will be extracted through hot sprayed water. Small coffee shops who just started their business use simple machines with small capacities. In this research, the machine used is a small machine with a 1.7-liter water capacity. Through this research, the capacity will be increased, and the machine's efficiency will be improved so that small coffee shops can start their business with small capital but with maximal results. Reverse engineering is an analysis process of an existing product to be used as a reference for designing a new similar product but with improved advantages of the product. The research started with determining the topic and continued with a literature study, which will discuss and observe the work process. Reverse engineering is done by disassembling and reassembling the machine used for the benchmark, followed by modifying the machine to become a new prototype. After the modification, the machine will have higher efficiency. Previously the machine could only do eight repetitions; after the modification, it can do fourteen repetitions.
Product Design presents an in-depth study of structured design processes and methods. In general, we have found that the exercise of a structured design process has many benefits in education and industry. On the industrial side, a structured design process is mandatory to effectively decide what projects to bring to market, schedule this development pipeline in a changing uncertain world, and effectively create robust delightful products. On the educational side, the benefits of using structured design methods include concrete experiences with hands-on products, applications of contemporary technologies, realistic and fruitful applications of applied mathematics and scientific principles, studies of systematic experimentation, exploration of the boundaries of design methodology, and decision making for real product development. These results have proven true whether at the sophomore introductory level with students of limited practice, or at the advanced graduate student level with students having years of practical design experience. Based on these observations, this book is intended for undergraduate, graduate, and practicing engineers. Chapter 1 of the book discusses the foundation material of product design, including our philosophy for learning and implementing product design methods. Each subsequent chapter then includes both basic and advanced techniques for particular phases of product development. Depending on the background of the reader, these methods may be understood at a rudimentary level or at a level that pushes the current frontiers of product design. Historically, this work grew out of a partnership effort between the authors, while we were both teaching product development courses and carrying out research in mechanical design.We both share similar philosophies on design, teaching, and research. Having each developed new methods in design, we were interested in transferring these and others' methods into practice. We also strongly wanted to bring the excitement of the real world, both in physics and the marketplace, to the design classroom. A fundamental premise of our teaching approach is that reverse engineering and teardowns offer a better paradigm for design instruction, permitting a modern learning cycle of experience, hypothesis, understanding, and then execution. Design instruction is no different than other domains; to learn design one should both follow this learning cycle and DO design. Reverse engineering and teardowns permit us to achieve this combined goal.We begin with a concrete product in our hands, seeing how others have designed products well, rather than rushing straight to the execution stage. With this in mind, we both independently set out to teach and successfully apply advanced methods, such as customer needs analysis, functional modeling, optimization, and designed experiments on real products. We quickly started sharing experiences, what worked and what did not, and progressively began to string together a series of techniques and that fit naturally together.When one of us had a success, we would brag to the other, or when something failed, we'd lament together. After a bit of systematic testing, we developed the methodology presented in this book, which has proved remarkably robust when applied.
New products drive business. To remain competitive, industry is continually searching for new methods to evolve their products. To address this need, we introduce a new reverse engineering and redesign methodology. We start by formulating the customer needs, followed by reverse engineering, creating a functional model through teardowns. The functional model leads to specifications that match the customer needs. Depending upon required redesign scope, new features are possibly conceived, or not. Next, models of the specifications are developed and optimized. The new product form is then built and further optimized using designed experiments. An electric wok redesign provides an illustration. The methodology has had a positive impact on results by using a systematic approach, both within design education and industrial applications.
- Gerhard Pahl
- Wolfgang Beitz
-
Joerg Feldhusen
- Karl-Heinrich Grote
Engineering design must be carefully planned and systematically executed. In particular, engineering design methods must integrate the many different aspects of designing and the priorities of the end-user. Engineering Design (3rd edition) describes a systematic approach to engineering design. The authors argue that such an approach, applied flexibly and adapted to a particular task, is essential for successful product development. The design process is first broken down into phases and then into distinct steps, each with its own working methods. The third edition of this internationally-recognised text is enhanced with new perspectives and the latest thinking. These include extended treatment of product planning; new sections on organisation structures, simultaneous engineering, leadership and team behaviour; and updated chapters on quality methods and estimating costs. New examples have been added and existing ones extended, with additions on design to minimise wear, design for recycling, mechanical connections, mechatronics, and adaptronics. Engineering Design (3rd edition) is translated and edited from the sixth German edition by Ken Wallace, Professor of Engineering Design at the University of Cambridge, and Luciƫnne Blessing, Professor of Engineering Design and Methodology at the Technical University of Berlin. Topics covered include: Fundamentals; product planning and product development; task clarification and conceptual design; embodiment design rules, principles and guidelines; mechanical connections, mechatronics and adaptronics; size ranges and modular products; quality methods; and cost estimation methods. The book provides a comprehensive guide to successful product development for practising designers, students, and design educators. Fundamentals are emphasised throughout and short-term trends avoided; so the approach described provides a sound basis for design courses that help students move quickly and effectively into design practice. Engineering Design is widely acknowledged to be the most complete available treatise on systematic design methods. In it, each step of the engineering design process and associated best practices are documented. The book has particularly strong sections on design from the functional perspective and on the phase of the process between conceptual and detail design in which most key design decisions are made. The 3rd edition includes new material on project planning and scheduling. Anyone committed to understanding the design process should be familiar with the contents of this book. Warren Seering, Weber-Shaughness Professor of Mechanical Engineering, Massachusetts Institute of Technology.
Memahami Reverse Engineering Melalui Pembongkaran Produk Di Program S-1 Teknik Mesin
- Dwi Wibowo
- Basuki
Wibowo, Dwi Basuki, 2006, Memahami Reverse Engineering Melalui Pembongkaran Produk Di Program S-1 Teknik Mesin, Jurnal.Unimus.ac.id, 4 (1):20a-31.
Efisiensi Sistem Produksi Dan Tataniaga Hortikultura
BPS, 2015, Efisiensi Sistem Produksi Dan Tataniaga Hortikultura, Buku 3, Jakarta.
- Tuwuh W Prasojo
Prasojo, Tuwuh. W, 2016, Perancangan Ulang Mesin Pencacah Rumput Dengan Metode Reverse Engineering, Jurnal Teknik Industri Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Perancangan Ulang Produk Pti 1 Menggunakan Metode Reverse Engineering
- Ganang F Wibowo
Wibowo, Ganang. F, 2016, Perancangan Ulang Produk Pti 1 Menggunakan Metode Reverse Engineering, Jurnal Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta.
3d Printer Inverted Z Design
Source: https://www.researchgate.net/publication/338747440_PERANCANGAN_MESIN_3D_PRINTER_DENGAN_METODE_REVERSE_ENGINEERING_Studi_Kasus_di_Laboratorium_Mekatronika_dan_Robotics_Universitas_Tarumanagara
Posted by: hainesbrelf1988.blogspot.com

0 Response to "3d Printer Inverted Z Design"
Post a Comment